petang itu ayah tidak lagi takut hujan..
seekor capung menempel di kaca jendela bis AC yang saya tumpangi malam itu. dua dari empat helai sayapnya lekat dilumuri bulir air hujan yang mengalir susul menyusul di permukaan kaca.
ada sensasi tertentu waktu naik bis AC lagi, ntah kapan terakhir kali harus duduk di bis sambil bertarung melawan teknologi penyegar udara yang seringnya malah membuat kepala saya tidak segar itu. saya salah seorang manusia yang tidak akur dengan teknologi bernama air condotioner.
tapi sensasi petang menuju malam kali itu bukanlah sensasi perlawanan terhadap si alat berteknologi canggih. melainkan sebuah perasaan menyenangkan yang mungkin tersari dari berbagai ingatan di masa lampau ketika naik bis AC. perjuangan-perjuangan empat tahun melintas kota setiap hari. ah dulu tubuh ini kuat sekali, tersadr bahwa umur mungkin salah satu faktor mengapa kali ini saya harus duduk dengan leher terbalut syal dan lutut yang terasa ngilu-ngilu.
hari ini saya tidak punya bunga untuk diselipkan di telapak tangan kamu, sebagai pengganti saya yang sudah harus pulang ke kota saya lagi. tapi sepotong percakapan kita sebelum kamu pergi tidur ketika bis saya mulai bergerak itu, cukup menenangkan saya–walau saya tak sempat petikkan kamu setangkai bunga–bunga pukul empat yang warna ungu atau putih atau bahkan bunga jadi-jadian peneman ilalang.
malam itu si bis AC berputar-putar tak tentu arah, atau memang karena saya sudah terlampau pikun untuk mengingat rute kendaraan yang sudah lama tak saya naiki itu. setelah memilih cabang ke kiri dari cibiru, saya sedikit lebih tenang. lewat soekarno hatta pastinya akan lebih lancar ketimbang ujung berung. tapi di tengah jalan dia isi bensin di sisi jalan yang berlawanan, lalu setelah selesai bukannya memutar balik, dia malah belok ke jalan kecil. lama berjalan, gelap dan suram di kedua sisi, saya tak kenal nama jalan. sialnya tepat dering telepon genggam saya buyarkan lamunan. ayah saya tanya saya sudah sampai mana. ha, asal sebut saya bilang antapani (padahal maksud saya arcamanik). bis keluar di daerah sebelum sukamiskin, dan masih harus menyusur ujung berung..huh saya tidak suka rute ujung berung.
hari itu ayahku tercinta sudah tidak mau berspekulasi lagi. hari sebelumnya ayah ibu ditambah adikku yang menyebalkan berramai-ramai menjemput, takut hujan akan membuat kami terserang flu tambah parah. tapi ternyata hujan tidak turun waktu itu. maka hari ini ayah nekat naik motor saja jemput saya. dia bawakan jaket biru dengan dua garis putih di lengan kiri dan kantung keresek untuk tas saya. sangat khas dia–penuh persiapan.
air mengalir membasahi jaket jaket kami. di atas jalan layang dia sempat bilang, “kalau licin begini jalannya pelan saja ya.” saya hanya bergumam mengiyakan. sambil bertanya-tanya kenapa dia tampak tidak terganggu kali ini oleh hujan. apakah ayah sudah berhenti takut pada hujan?
4 November