13 juli
sunday
satu jam sebelum umur kamu berganti dengan angka kembar
“spending sundays in your apartment
is like a holiday for me
you drink water
i drink wine
that suits me fine
i think it’s intentional
the way your clock is an hour behind
i think i’ll stay longer
because mondays
always come around
i need lazy days on the sofa
more than love on summerdays
talking fast
saying nothing
it’s alright with me
i need a drink
i need some company
i need someone
to share my life with
i think it’s intentional
the way your clock is an hour behind
i think i’ll stay longer
because mondays
always come around”
holiday dari club 8 mengalun di playlist windows media player malam ini (bukan winamp!)…
pikiran ini melayang ke hari minggu tepat seminggu yang lalu. hari itu ada kamu, ada hari minggu, dan ada “your apartement”.. hehehe.. lengkap. seperti apa kata lagu ini. itulah mungkin kenapa dalam tidur tiba-tiba saya mendengar lagu itu mengalun siang itu. ahh..ya siang itu..
hari ini lagu itu mengalun lagi. saya di sini, di rumah yang tampak ramai bukan kepalang, tiga tv dengan suara bersaing satu sama lain. lalu kamu di sana, ramai juga tampaknya, kalau jadi mungkin sedang seru main ps. masih di bawah langit yang sama, bahkan masih di daratan yang sama hanya dipisah beda nama geografis batas kota.
saya mau ceritakan satu rahasia kecil. mungkin kamu dulu pernah lihat saya ganti primary photo, gambar usagi tsukino sedang pandangi langit malam, lalu di bawahnya saya beri caption yang sebenarnya saya cuplik dari lagu lamanya nica costa, “and even tough i know how very far apart we are.. it helps to think we might be wishing on the same bright star. and when the night-wind start to sing a lonesome lullaby, it helps to think we’re sleeping underneath the same big sky”. Rahasia kecilnya, waktu memasang dan menuliskan itu, saya sebenarnya memikirikan kamu..
kamu tahu, dulu sekali, saya kenal kata rindu sebagai kata yang membunuh, menyiksa, membuat biru, destruktif lah pokonya (apalagi kalau pms ;p).. tapi kamu bikin saya memaknai kata itu dengan cara lain. saya merasa hidup. bahkan waktu kemarin dalam kantuk yang tertumpuk. hitung-hitung, kurang dari sepuluh jam total tidur dalam tiga hari. hari jumat saya berangkat dengan mata dan tubuh seperti zombie. Tapi saya bangun pagi itu.
saya bangun pagi itu untuk lihat kamu. (apa maksudnya nat?)..
hehehe.. ini ceritanya baru akan saya mulai..
ada cerita yang harusnya sudah saya tuliskan tentang hari-hari kemarin.. bahkan terlalu banyak. maafkan kalau kamu harus buka aletheia kita ini dan mendapati saya belum berbagi satu kata pun. saya tahu kamu kecewa. alasannya, sudah saya bilang kemarin di ym. but i knew, reason is just another term of excuses or appologies. semua bisa diubah, begitu kata kamu. saya sepakat. waktu saya baca tulisan 12 juli, saya tahu benar apa maksud kamu.
kalau dipikir-pikir, ada dua alasan, mengapa sulit sekali menulis (dan membaca–karena mereka memang kegiatan kait mengkait), ketika hati sedang senang. pertama, mungkin memang saya terlalu pelit untuk membagi energi kebahagiaan itu, takut kalau-kalau kebahagiaan itu bisa habis kalau dibagi. but i know it’s silly. seperti kamu pernah bilang, ‘happines only real when it’s shared’. alasan kedua, mungkin energinya meluap-luap, hilarious, dan lalu terngiang- ngiang lirik mint car, “The sun is up i’m so fizzy i could burst!/ you wet through and me headfirst / into this it’s perfect/ It’s all i ever wanted/ ow! it feels so big it almost hurts!.. u know what i mean, it feels so big, a piece of paper seems not enough to carry it… hehe.. tapi akhirnya saya menulis juga…
tadi saya janji mau ceritakan tentang beberapa hari yang belum saya tuliskan di sini.. saya cuplik dan satukan tulisan-tulisan tentang beberapa ini.. sempat beberapa saya tulis di buku saku usang yang biasanya saya bawa kemana-mana itu.. dan beberapa carik notepad yang tercecer…
***
delapan juli
Aku berdiri di trotoar samping bis mu sore itu, menyender ke pagar. Tukang teh botol di sebelah tampaknya terganggu, tapi aku masih ingin melihatmu lebih lama, setidaknya sampai punggung bis ini hilang menjadi titik. Kamu duduk di bagian sayap kiri-kursi dua-tapi bukan yang dekat jendela, urutan ke dua atau tiga dari belakang..
Hari ini tanggal delapan, iya hari ini.. mungkin hari ulang tahun terbaik yang pernah kupunya.. Akhir dari sore tadi sempat mendadak berritme cepat. I get a lil bit more nerves, jadilah supir angkot tadi kena batunya. Pikiran-pikiran seperti, ‘akhirnya kamu benar akan berangkat. tidak akan ada rekayasa lagi. tidak mungkin lagi kejutan tiba-tiba kamu berdiri di depan pintu di kotaku, voila! nat i’m here.. tidak. sekarang benar kamu berangkat ke kotamu’, ya pikiran-pikiran seperti itu, yang sempat mampir waktu bis dipati ukur-jatinangor itu mulai menghilang menikung ke kiri.
Di atas motor ayahku yang melaju kencang, pikiranku melayang-layang. Entah cerita apa saja yang sudah berkelebat, yang pasti, tiba-tiba matahari yang bulat sempurna ada di depan mata. Sampai di daerah setrasari, warnanya semakin cantik, cantik sekali. Lalu entah bagaimana bisa, di pinggiran jalan daerah pemukiman elit itu, ada pedagang layang-layang. Bentuk layang-layangnya kupu-kupu cantik dengan berbagai pilihan warna.
Matahari, bermain layang-layang. Ahh, belum-belum pikiran ini melayang padamu. Tapi kamu tahu sebuah pikiran lucu datang kemudian. Hey, mungkin matahari diutus untuk gantikan kamu sementara, temani aku selama kamu di kotamu. Pikiran aneh memang. Tapi, mulai sore itu aku tidak lagi membedakan senja dan fajar. Tidak lagi pilih kasih pada keduanya. Senja dan fajar sama matahari. Dan aku lihat kamu di dalam bulatnya yang terang. Mungkin pikiran ini sudah melintas sepilas demi sepilas, seulas demi seulas, sejak aku tuliskan lagu berjudul kuning untuk kamu. Lagu itu tentang matahari. Dan sekarang matahari itu kamu.