Mengingat Hasrat

Entah apa mau dikata, pada pagi seperti inilah saya malah memilih untuk menulis. Since your last post on aletheia i wanted to say that i really want to write you back, or even just to comment. But then i lost my words after only three sentences. Dan akhirnya pagi ini saya temukan hasrat itu. Pada saat akhirnya saya bertemu langit pagi, walau bukan dengan cara bangun pagi.

“Ingin bangun pagi, bosan tidur pagi”

Begitu saya tulis di beberapa situs akun jejaring sosial saya belakangan ini. Sebelumnya, dalam tulisan yang pernah saya kirim buat kamu di luar aletheia, saya sudah pernah bilang tentang ritme yang sedang saya jalani ini. Menguapnya hasrat telah menjadi tema wacana di kepala saya belakangan ini. Betapa beruntungnya saya, di antara fase di mana saya kesulitan mencarinya, si hasrat sedikit-sedikit mau muncul juga.

Saya duduk di balkon rumah kayu, sejak beberapa menit lalu dengan niat mendinginkan tubuh saya. Semilir angin menampar paha saya, dan menghadirkan sensasi yang luar biasa menyenangkan. Entah bagaimana caranya, Kedoya tetap punya angin yang sejuk, kicau burung yang bangun pagi dan mejeng di dahan pohon, dan sesekali bunyi burung perkutut peliharaan tetangga seberang rumah. Meski Kedoya masih berpepohonan, bertahan tanpa kipas dalam sebuah kamar pada malam tak berangin nyatanya tetap memberi efek sensasi jaccuzi. Saya belum tidur sejak hampir sembilan belas jam yang lalu, melewati bergantinya hari dan tanggal. Padahal saya harus tidur. Saya janji ke rumah kamu hari ini. Berbekal buku The Woman Warrior karya Maxine Hong Kingston dan rokok sebatang, saya mencoba menurunkan suhu tubuh dan mengeringkan keringat. Eng ing eng.. tiba-tiba hasrat menulis datang.

Saya mulai mengetik dengan rencana yang berubah-ubah dalam mengatur plot cerita karena takut kamu kebingungan saat membaca ini. Saya meminilisir itu, walau tidak yakin kamu tidak kelelahan mengurai kalimat gemuk saya yang beranak pinak dan alur yang maju mundur sesuai kualitas otak saya yang belum diistirahatkan ini. Jadi bagaimana, kalau coba metode termudah. Kronologis.

Dengan niat mempercepat datangnya kantuk, semalam saya menyetel dvd. Saya pulang dari ewok dan sampai di kamar lewat tengah malam (kamu yang tahu jam pastinya, seperti tercantum dalam sms) dengan suatu kesadaran bahwa malam itu tidak akan mudah untuk dilalui dengan terjaga. Selain kipas angin yang sudah dua hari mati, saya tidak percaya diri ketika sadar botol akua yang baru saja saya beli tertinggal di ewok. Keluar dan berjalan lagi ke arah kantor adalah pilihan yang hampir tidak mungkin, dan semestinya tidak jadi pilihan.

Singkat cerita, saya akhirnya menghabiskan malam dengan dua keping cd film, kacang sukro sisa paket lebaran kantor, dan susu kotak mini dari amadita yang sudah beberapa bulan teronggok di pojok kamar. Saya tahu, susu rasa buah dengan pemanis buatan itu akan mengganggu tenggorokan saya pada satu titik, maka saya memilih-milih beberapa botol akua kosong yang tergeletak sembarang di beberapa sudut kamar. Ada satu yang berisi, tapi tak sampai lima sendok makan volumenya saya terka.

Ah baguslah, saya pikir. Ini akan memotivasi saya untuk tidur lebih cepat. Paling saya akan mimpi mencari air di gurun. Tapi, saya sadar badan dan pikiran saya masih segar bugar. Saya putar sebuah cd berisi video prosa berjudul Pada Sebuah Lipatan, yang entah karya siapa. Musiknya horor, tapi ternyata kisahnya ironi. Film pendek atau video atau semacamnya itu habis setelah diputar dalam durasi sekitar 15 menit. Saya beralih ke dvd film berjudul Jane Eyre. Saya lupa siapa sutradaranya. Tapi saya hafal di luar kepala penulis novel yang menjadi dasar film ini, Charlote Bronte (dengan titik dua di atas huruf o).

Saya agak menunda untuk memutarnya sejak pertama kali saya pinjam. Entah apa saya pernah bilang pada kamu atau belum, saya punya sejarah dengan si Jane Eyre ini. Kalau bukan karena dia, mungkin mata saya tidak minus tiga sekarang. Dan kalau bukan karena dia, mungkin saya juga tidak menulis atau membaca apa yang pernah saya tulis dan saya baca selama ini. Jane Eyre buku sastra pertama yang saya baca. Kalau tidak salah ingat ketika saya kelas lima SD, pada suatu hari sabtu, saya temukan dia di rak perpustakaan.

Hari sabtu, waktu belajar di kelas hanya setengah dari hari lain. Sisanya, dipergunakan–kalau tidak mau disebut dipaksakan–sebagai waktu membaca di perpustakaan. Inovasi SDN Merdeka 5 yang mereka percaya sebagai solusi cerdas untuk mencerdaskan kami. Nyatanya, sering kami selewengkan jadi waktu istirahat atau kalaupun memang membaca, kami pilih buku Goosebumps karya RL Stine yang terbit berpuluh-puluh seri itu.

Entah di Bogor ngetop atau tidak, tapi buku itu dulu sempat mencuri tempat buku klasik macam Pasukan Mau Tahu, Detektif Cilik atau Lima Sekawan terbitan lama yang cuma mejeng di taman bacaan dengan kondisi fisik yang seringkali mengenaskan. Sekarang mereka sudah dicetak ulang dan dengan kover yang cantik macam teenlit. Dulu teenlit sepertinya belum ada. Kalau mau ditarik yang mendekati paling Girls Talk, Sisterhood Travelling Pants, atau apa itu buku tentang seorang remaja dengan sepeda yang membuat saya jatuh cinta setengah mati dengan kegiatan membaca. (Tapi herannya saya lupa judul buku itu).

Saya lantas mengingat-ingat lagi rasanya. Jane Eyre saya temukan di rak, terselip dalam buku-buku lain yang tidak sejenis. Bahkan memang dia satu-satunya buku sastra inggris klasik. Terjemahan dan adaptasi dengan metode diringankan, sepertinya. Entah siapa guru yang khilaf membawa buku itu ke perpustakaan sekolah dasar. Buku dari pengarang sejaman Jane Austen itu memiliki genre dan seting waktu yang juga tidak jauh beda dengan si Pride and Prejudice atau Emma. Seting kondisi Inggris yang pekat perbedaan kelas mencolok, ingatkan saya dengan tema-tema sejenis karya Charles Dickens. Tapi semua buku dan pengarang yang lebih ngetop itu, baru saya kenal setelah Jane Eyre. Dia pertemuan pertama saya dengan buku-buku sastra klasik. Dan pada pertemuan pertama itu saya jatuh hati.

Lain lagi dengan dengan si buku tentang sepeda itu. Dia, pada suatu hari dalam masa liburan SMP atau akhir SD, membuat saya anteng seharian  tidak mandi, dan makan tergesa. Sambil menghabiskan sekantung penuh permen kopiko, seharian saya membaca dekat jendela yang sinarnya terang benderang sampai menyilaukan mata. Saya suka sekali jendela-jendela itu, permen kopi itu, imajinasi saya yang lebur, turut dalam gang-gang, belokan-belokan blok perumahan si tokoh dalam buku itu. Dia dan sepedanya. Saya jatuh cinta. Saya menyesap sensasi itu dengan rakus. Saya, tentunya kamu tau, tak bisa bersepeda, dan tak mungkin menyusuri blok-blok di sarijadi seperti dia.

Membaca menjadi hasrat pertama saya selain langit dalam jendela yang terang. Keduanya tawarkan saya sebuah dunia yang tidak bisa saya jamah, kala itu. Itu saya pikir konsep hasrat pertama yang saya kenal. Mengidamkan sesuatu yang pada masanya, tak terraih. Tadi malam waktu saya akhirnya berhasil nonton Kutukan KUdungga, saya kira adalah satu bukti berhasilnya saya dalam penjaringan si hasrat. Tapi sepertinya saya salah. Itu hanya pencapaian atas sisa dari–apa yang dengan bangga saya paksakan menjadi hasrat–beberapa waktu lalu. Keinginan yang dengan sadar saya tetapkan sebagai hasrat, dalam rangka mencoba tetap mengenali diri sebagai apa yang saya kira sebagai diri saya selama ini: orang dengan hasrat.

Perkara hasrat-berhasrat ini tampaknya lebih rumit dari yang saya rumuskan selama ini. Saya baru tersadar, hasrat itu bisa muncul dari hal-hal yang tak terkira. Semalam menonton Jane Eyre membuat hasrat saya bangkit. Ternyata, berpikir; mengingat; membaca; dan menulis pernah menjadi hasrat saya pada masanya. Dan memori tentang masa yang penuh hasrat itu ternyata mengembalikan hasrat pula. Semoga ini bukan sekadar duplikasi maya dari ingatan. Semoga ini adalah recall memory yang menjadikan pemantik inspirasi. Mengembalikan kesadaran tentang apa yang ada.

Meski banyak sekali yang ingin saya tentang ketika pertama membaca tulisan Kerak Kerak dan Kesendirian, saya pikir sekarang kamu benar. Mungkin tercabut dari rutinitas sebagai pekerja, telah membuat saya susah memaknai kemanusiaan saya. Hasrat saya. Mengapa saya sulit sekali memahami dan mengamini tulisan itu pada awalnya? Karena sejak hampir sekitar tiga bulan lalu, saya tidak lagi merasa jadi unit kerja itu. Saya bahkan mengalami sensasi baru dirumahkan (what a fuckin term is that).

Apakah dulu–ketika awal bekerja–saya mengalami keresahan karena tidak ingin menjadi robot? Hampir setiap hari.

Apakah saya menemukan wajah-wajah yang kamu bilang–apa yang disebut gito rollies sebagai–robot robot kota yang kaku? Hampir selalu.

Apakah saya menuliskannya? Tidak sejak di Jakarta.

Apakah saya merenungkannya? Hampir setiap selesai kelelahan.

Jadi apakah saya telah membiarkan diri saya menjadi unit kerja sebelumnya? Mungkin saja.

Apakah hasrat-hasrat itu akan kembali pada saya? …

Pertanyaan terakhir ini saya semakin ragu menulis jawabannya. Jawaban semoga, tampak sangat pasrah. Pasrah seringkali menimbulkan rasa pegal di betis kaki saya yang dilanjutkan dengan senutan di ulu hati dan rasa panas di kepala. Pasrah itu luar biasa mengesalkan. Jadi sebisa mungkin saya tidak tidak ingin memasrahkan perkara kapan harat saya kembali. Dan sebelum tulisan ini beralih tema menjadi tentang pasrah, lebih baik saya cepat-cepat menyudahinya.

Kedoya, 24 September 2011

8:45 AM (..dan belum mengantuk)



Kerak-kerak dan Kesendirian

Hei, mungkin kamu kira saya tidak baca pesan kamu. Saya baca. Seringkali pertanyaan kamu terlalu sulit buat dijawab serampangan. Membiarkannya pun bukan hal yang tepat, sebab ingatan selalu sadarkan saya kalau hubungan ini dimulai dengan bermacam pertanyaan dan pernyataan kamu yang sering bikin saya berkerut dahi..hehe

Kesendirian dan kerak-kerak di sekitarnya. Bukan kamu saja yang merasakannya. Di kota ini, tiap orang punya keraknya masing-masing. Tiap orang berjalan dengan kesendiriannya masing-masing. Saya melihatnya di wajah tiap orang yang tergesa dalam perjalanan, berdesak dalam antrian busway. Atau mereka yang tenggelam dalam gadget masing-masing, padahal kondisi sekitaran begitu sayang buat dilewatkan.

Kota ini terbentuk sepi. Semenjak tiap hubungan adalah hubungan yang diperantarai uang, maka manusia tidak bisa mengenali dirinya kecuali sebagai komoditi. Sebagai sesuatu yang selalu diembel-embeli dengan kerja dimana sebagai apa. Setiap jiwa direduksi jadi unit kerja sebuah proses produksi.

Masa dimana kita lepas dari proses produksi adalah masa ketika banyak orang tidak bisa menghayati kemanusiaannya lagi. Mereka sudah terbiasa menjadi unit, tidak lagi bisa menjadi diri yang utuh. Tidak bisa lagi lepas dari embel-embel kerja dimana sebagai apa. Ketika itu terjadi maka kerak mulai terbentuk. Mengendap di dalam jiwa-jiwa yang kesepian.

Itu kenapa saya suka bilang “saya kerja nunggu dipecat”. Saya mau membiasakan diri tidak menjadi unit, saya mau menjadi diri yang utuh tanpa tereduksi menjadi kerja dimana sebagai apa. Dan kamu tahu pasti alasan saya memilih pekerjaan ini. Beberapa mungkin mencibir tanpa tahu alasan sebenarnya. Saya cuma anggap itu sebagai perhatian berlebih..hehe.

Banyak pasangan terbiasa dengan konsep waktu yang berkualitas. Buat saya ini cuma mitos menggelikan. Seperti tipuan sulap murahan, yang bahkan anak kecil pun bisa menebaknya.

Konsep waktu yang berkualitas seringkali buat orang silap. Membenarkan pertemuan yang cuma sebentar, sementara sebagian besar waktu mereka dicurahkan untuk pekerjaan. Ketika saya balas pesan singkat kamu tentang kesibukan itu, mungkin kamu kira saya hanya bergurau. Tidak. Menjadi sibuk dengan pekerjaan tanpa punya alasan kuat, tanpa tahu kondisi lingkungan yang membuat kita bekerja adalah mimpi buruk. Seringkali para pekerja terbangun dari mimpi buruk, tidak tahu apa yang terjadi, dan memilih tidur lagi.

Kesadaran tidak pernah hinggap dalam diri mereka. Apakah itu salah mereka? sebagian, iya..hehe

Jakarta, 21 September 2011



Senja

Hei, kamu yang sedang kena kutukan Benjamin Button.

Disini sedang adzan Magrib. Kamu entah tidur lagi atau mulai terjaga. Yang jelas sedang marah-marah. “Kesel..g bs ngapa2in, smuanya salah,” tulis kamu dalam pesan singkat. Menurut mitos, perasaan itu datang dari tidur siang. Terbangun dan kecewa berat karena matahari ternyata sudah surut dan hari siap berganti.

Ah, kamu kan selalu senang malam. Kenapa sedih waktu lembayung merenda langit senja?

Bertahun lalu saya pernah tunjukkan kamu sebuah tempat. Letaknya tak seberapa jauh dari kosan saya. Menyusur sisi lapangan bola, lalu berbelok ke kiri. Menyelisip bangunan lewat gang tak seberapa besar, lalu ke kiri setelah masjid. Ada pemakaman tak seberapa luas, jadi gerbang masuk museum alam bernama langit senja. Apa kamu masih ingat?

Lalu kita balap lari di tanjakan. Badan saya yang lebih ringan selalu kalahkan kamu..hehehe. Sampai suatu hari kamu hampir pingsan karena kelelahan berlari di tanjakan dan harus berdiri naik bus Kota. Hari itu saya bilang pada janji tak akan lagi ajak kamu balapan lari.

Saya sebenarnya tak punya ide buat menulis. Jadi sudah saja. Cuma rindu senja menyenangkan bersama kamu. Lihat penjuru Barat…

Ayo kita nyanyi, jangan tidur lagi. Lagu Naif “saat senja berlalu kucari dirimu, karena ku selalu senang bersamamu…”

Cikeruh, 3 Juni 2011



Aletheia

“Lebih baik menjaga dengan baik apa yang kita punya, daripada merusak apa yang bukan milik kita”, kata teman suatu sore. Saya cuma termangu. Tidak ada sanggahan atau dukungan. Kamu tahu, masalah kepemilikan atau possession selalu jadi hal besar buat saya.

Belakangan saya banyak berpikir tentang obrolan kita tempo hari. Subjek yang jadi bahan kita bicara awalnya, namun belakangan justru datang dari orang lain.

Hei, hubungan. Rasa-rasanya ini bukan subjek yang tuntas dibahas dan dinamai. Mungkin nama bukan masalah besar, tapi ternyata penting. Nama hadir dari usaha kita memaknai pengalaman keseharian, selanjutnya jadi penunjuk arah.

Aletheia. Mewah, bukan? Ternyata memang sangat mewah. Saya pikir, lebih mewah dari cicilan blackberry atau city car..hehehe. Menyingkap memang menyicil, sebab tidak sekali jadi. Kita seperti menaruh batu bata satu-persatu, membangunnya jadi rumah, lalu menghancurkannya lagi. Menyingkap butuh usaha, kelambanan, dan individualitas.

#####

Belakangan kita kehabisan tenaga untuk berusaha melakukan penyingkapan. Ah, seperti kamu bilang, kita terjebak dalam rutinitas yang menghisap waktu. Mengubah detik jadi menit; menit jadi jam; jam jadi hari. Pada ujungnya hari jadi kebosanan.

Rutinitas seperti neo-diazepam, jenis obat yang dulu saya konsumsi untuk menghilangkan rasa sakit paska-operasi. Rasa sakit memang hilang, tapi saya sendiri tidak tahu persis bagaimana obat bekerja menghilangkan rasa sakit.

Adik saya bilang, “jangan minum obat ketika rasa sakit masih bisa kita hadang.” Obat punya efek samping jangka panjang. Rutinitas juga begitu. Rutinitas menghisap waktu kita, lalu membuat kita lupa pada waktu itu sendiri. Rutinitas mengubah tenaga jadi kelalahan; Membuat kita tergesa lalu lupa pada kelambanan.

#####

Saya keluarkan selembar kertas, lalu mulai mendaftar tempat-tempat yang bisa kita kunjungi.”Santai saja, kita punya banyak waktu,” di undakan Gasibu kamu berucap. Lalu kita memilih untuk menyusur saja, tanpa panduan. Dari rindang taman Cilaki sampai megahnya Katedral.

Menyenangkan, punya waktu untuk melambat. Kelambanan di Cihampelas bikin saya tahu kalau kamu mengidamkan pohon besar yang kukuh berdiri di depan Ciwalk; kelambanan membuatmu bertemu bajigur (pengalaman pertama tidak selalu menyenangkan); kelambanan bikin saya bercerita tentang keluarga, dan kamu jadi pendengar yang baik sambil sesekali melempar senyum. Kelambanan menyingkap banyak hal. Tentang kamu, saya, dan kita.

Sekarang, kelambanan jadi hal mewah buat kita..hehehe. Jarak memang menyulitkan. Tapi, saya janji, kali lain kita punya waktu saya tak akan menjadi tergesa. Kecuali jika malam mulai merenggut tubuhmu. Kita bisa tutup hari dengan bernyanyi lagu kesukaan Papamu. “Kamu Harus cepat Pulang, jangan terlambat sampai di rumah”, dan suaramu meninggi “mereka tak pernah mengerti, mereka nggak mau mengerti”..hehehe

#####

Kamu bermasalah dengan saya yang tak punya banyak cerita..hehehe. Mungkin memang tak ada cerita. Rutinitas saya seringkali lebih membosankan dari milikmu. Tapi, saya memang berusaha menjadi pendengar, meski belum masuk dalam kategori pendengar yang baik. Mendengar itu menekan ego.

Kamu, sebaliknya, lebih suka bicara. Menguapkan emosi yang kadung menumpuk dalam baris kata-kata yang kadang tanpa titik koma..hehehe. Hei, mendengar dan bicara sama-sama butuh tenaga loh. Adakalanya jejeran ceritamu seperti hujan deras menerpa. Tinggallah saya yang kuyup dan kedinginan, dan “diharuskan” bercerita..hahahaha

Saya pikir, masing-masing dari kita perlu belajar bicara dan mendengar. Menyampaikan cerita masing-masing, mendengar cerita lawan bicara. Saya belum tahu bagaimana caranya, tapi saya mau mencari. Setiap orang adalah individu unik dan punya cara masing-masing. cara yang adakalanya tidak bisa disamaratakan.

Individualitas tidak bisa dipertentangkan dengan mutualitas. Sebab mutualitas hanya bisa muncul jika ada individu-individu. Individu juga tidak mungkin menjadi individualis, semenjak perkembangbiakan menjadi nadi sejarah manusia.

#####

Saya mau menjaga kamu, selama kamu menjaga diri kamu sendiri. Mungkin itu jawaban atas pembuka tulisan ini. Rasa-rasanya kamu, saya, dan kita perlu belajar lagi. Menulis lagi. Menyingkap lagi. :-)

Cikeruh, 2 juni 2011



about 6-7-8

today is 6

u said, that’s how the number of 6 works..

i said, that’s how we works everythin out..

just like what i said,
‘senang bersamamu’

and im cured from 6phobia, i guess.. hehe



petang itu ayah tidak lagi takut hujan..

seekor capung menempel di kaca jendela bis AC yan g saya tumpangi malam itu. dua dari empat helai sayapnya lekat dilumuri bulir air hujan yang mengalir susul menyusul di permukaan kaca.

ada sensasi tertentu waktu naik bis AC lagi, ntah kapan terakhir kali harus duduk di bis sambil bertarung melawan teknologi penyegar udara yang seringnya malah membuat kepala saya tidak segar itu. saya salah seorang manusia yang tidak akur dengan teknologi bernama air condotioner.

tapi sensasi petang menuju malam kali itu bukanlah sensasi perlawanan terhadap si alat berteknologi canggih. melainkan sebuah perasaan menyenangkan yang mungkin tersari dari berbagai ingatan di masa lampau ketika naik bis AC. perjuangan-perjuangan empat tahun melintas kota setiap hari. ah dulu tubuh ini kuat sekali, tersadr bahwa umur mungkin salah satu faktor mengapa kali ini saya harus duduk dengan leher terbalut syal dan lutut yang terasa ngilu-ngilu.

hari ini saya tidak punya bunga untuk diselipkan di telapak tangan kamu, sebagai pengganti saya yang sudah harus pulang ke kota saya lagi. tapi sepotong percakapan kita sebelum kamu pergi tidur ketika bis saya mulai bergerak itu, cukup menenangkan saya–walau saya tak sempat petikkan kamu setangkai bunga–bunga pukul empat yang warna ungu atau putih atau bahkan bunga jadi-jadian peneman ilalang.

malam itu si bis AC berputar-putar tak tentu arah, atau memang karena saya sudah terlampau pikun untuk mengingat rute kendaraan yang sudah lama tak saya naiki itu. setelah memilih cabang ke kiri dari cibiru, saya sedikit lebih tenang. lewat soekarno hatta pastinya akan lebih lancar ketimbang ujung berung. tapi di tengah jalan dia isi bensin di sisi jalan yang berlawanan, lalu setelah selesai bukannya memutar balik, dia malah belok ke jalan kecil. lama berjalan, gelap dan suram di kedua sisi, saya tak kenal nama jalan. sialnya tepat dering telepon genggam saya buyarkan lamunan. ayah saya tanya saya sudah sampai mana. ha, asal sebut saya bilang antapani (padahal maksud saya arcamanik). bis keluar di daerah sebelum sukamiskin, dan masih harus menyusur ujung berung..huh saya tidak suka rute ujung berung.

hari itu ayahku tercinta sudah tidak mau berspekulasi lagi. hari sebelumnya ayah ibu ditambah adikku yang menyebalkan berramai-ramai menjemput, takut hujan akan membuat kami terserang flu tambah parah. tapi ternyata hujan tidak turun waktu itu. maka hari ini ayah nekat naik motor saja jemput saya. dia bawakan jaket biru dengan dua garis putih di lengan kiri dan kantung keresek untuk tas saya. sangat khas dia–penuh persiapan.

air mengalir membasahi jaket jaket kami. di atas jalan layang dia sempat bilang, “kalau licin begini jalannya pelan saja ya.”  saya hanya bergumam mengiyakan. sambil bertanya-tanya kenapa dia tampak tidak terganggu kali ini oleh hujan. apakah ayah sudah berhenti takut pada hujan?

4 November



mati kutu

hei…Maaf ya otak saya mati kutu jadi belum bisa menulis lagi…cuma mau bilang senang bersamamu…hehehe


biru untukmu

untukmu kutunjukkan arah
detik kucipta fajar
detik melepas senja
kuurai biru melerai gejolak batinmu

– Balkon rumah Jogja, Suatu sore bulan juli –



sampai besok pagi

Saya pun mengantuk..
Lalu mengapa harus saya persulit kamu
pada sebuah malam di mana saya menjadi sulit,
di suatu hari yang sulit saya lalui pula..

Ada rasa yang tidak bisa saya ungkap lewat kata,
dan yang akhirnya saya lakukan hanya memperburuk semuanya..

Kamu punya langit dan bintang-bintang, saya tau..
sebagaimana saya punya kupu-kupu dan teman ilalang..

pada suatu hari yang baik, kita bersama
jauh ataupun dekat..

di saat lainnya, kamu bersama mereka di atas sana, dan saya
bersama mereka di bawah sini..

saya tau semua semudah itu..
tapi kamu tau, saya kadang merasakannya sulit..

dan untuk itu saja saya telah ganggu waktu tidurmu,

saat ini, ketika saya memejam mata,
sebuah adegan yang tergambar hanyalah

kita berbaring saling memunggungi..
kamu ke kanan dan saya ke kiri..

semoga besok pagi,
kita bangun,
temukan wajah masing-masing saling menghadap,
karena saya sudah akan rindu pandangi wajah kamu
waktu bangun nanti..



matahari matahari, tanpa tanda setrip

mataharinya ada dua,
aku berujar..

lalu mata terpejam
gelap, larut dalam lamunan..

kelopak mata terbuka,
gelap,
kehilangan matahariku lagi,
keduanya..

tunggu sampai besok pagi,
mereka datang lagi..