Thursday, November 6, 2008

about 6-7-8

today is 6

u said, that’s how the number of 6 works..

i said, that’s how we works everythin out..

just like what i said,
’senang bersamamu’

and im cured from 6phobia, i guess.. hehe

Posted by aletheia in 12:14:51 | Permalink | No Comments »

petang itu ayah tidak lagi takut hujan..

seekor capung menempel di kaca jendela bis AC yang saya tumpangi malam itu. dua dari empat helai sayapnya lekat dilumuri bulir air hujan yang mengalir susul menyusul di permukaan kaca.

ada sensasi tertentu waktu naik bis AC lagi, ntah kapan terakhir kali harus duduk di bis sambil bertarung melawan teknologi penyegar udara yang seringnya malah membuat kepala saya tidak segar itu. saya salah seorang manusia yang tidak akur dengan teknologi bernama air condotioner.

tapi sensasi petang menuju malam kali itu bukanlah sensasi perlawanan terhadap si alat berteknologi canggih. melainkan sebuah perasaan menyenangkan yang mungkin tersari dari berbagai ingatan di masa lampau ketika naik bis AC. perjuangan-perjuangan empat tahun melintas kota setiap hari. ah dulu tubuh ini kuat sekali, tersadr bahwa umur mungkin salah satu faktor mengapa kali ini saya harus duduk dengan leher terbalut syal dan lutut yang terasa ngilu-ngilu.

hari ini saya tidak punya bunga untuk diselipkan di telapak tangan kamu, sebagai pengganti saya yang sudah harus pulang ke kota saya lagi. tapi sepotong percakapan kita sebelum kamu pergi tidur ketika bis saya mulai bergerak itu, cukup menenangkan saya–walau saya tak sempat petikkan kamu setangkai bunga–bunga pukul empat yang warna ungu atau putih atau bahkan bunga jadi-jadian peneman ilalang.

malam itu si bis AC berputar-putar tak tentu arah, atau memang karena saya sudah terlampau pikun untuk mengingat rute kendaraan yang sudah lama tak saya naiki itu. setelah memilih cabang ke kiri dari cibiru, saya sedikit lebih tenang. lewat soekarno hatta pastinya akan lebih lancar ketimbang ujung berung. tapi di tengah jalan dia isi bensin di sisi jalan yang berlawanan, lalu setelah selesai bukannya memutar balik, dia malah belok ke jalan kecil. lama berjalan, gelap dan suram di kedua sisi, saya tak kenal nama jalan. sialnya tepat dering telepon genggam saya buyarkan lamunan. ayah saya tanya saya sudah sampai mana. ha, asal sebut saya bilang antapani (padahal maksud saya arcamanik). bis keluar di daerah sebelum sukamiskin, dan masih harus menyusur ujung berung..huh saya tidak suka rute ujung berung.

hari itu ayahku tercinta sudah tidak mau berspekulasi lagi. hari sebelumnya ayah ibu ditambah adikku yang menyebalkan berramai-ramai menjemput, takut hujan akan membuat kami terserang flu tambah parah. tapi ternyata hujan tidak turun waktu itu. maka hari ini ayah nekat naik motor saja jemput saya. dia bawakan jaket biru dengan dua garis putih di lengan kiri dan kantung keresek untuk tas saya. sangat khas dia–penuh persiapan.

air mengalir membasahi jaket jaket kami. di atas jalan layang dia sempat bilang, “kalau licin begini jalannya pelan saja ya.”  saya hanya bergumam mengiyakan. sambil bertanya-tanya kenapa dia tampak tidak terganggu kali ini oleh hujan. apakah ayah sudah berhenti takut pada hujan?

4 November

Posted by aletheia in 04:53:35 | Permalink | No Comments »

Thursday, October 16, 2008

mati kutu

hei…Maaf ya otak saya mati kutu jadi belum bisa menulis lagi…cuma mau bilang senang bersamamu…hehehe
Posted by aletheia in 15:30:20 | Permalink | No Comments »

Saturday, September 20, 2008

biru untukmu

 

untukmu kutunjukkan arah
detik kucipta fajar
detik melepas senja
kuurai biru melerai gejolak batinmu

– Balkon rumah Jogja, Suatu sore bulan juli –

Posted by aletheia in 21:16:25 | Permalink | No Comments »

sampai besok pagi

Saya pun mengantuk..
Lalu mengapa harus saya persulit kamu
pada sebuah malam di mana saya menjadi sulit,
di suatu hari yang sulit saya lalui pula..

Ada rasa yang tidak bisa saya ungkap lewat kata,
dan yang akhirnya saya lakukan hanya memperburuk semuanya..

Kamu punya langit dan bintang-bintang, saya tau..
sebagaimana saya punya kupu-kupu dan teman ilalang..

pada suatu hari yang baik, kita bersama
jauh ataupun dekat..

di saat lainnya, kamu bersama mereka di atas sana, dan saya
bersama mereka di bawah sini..

saya tau semua semudah itu..
tapi kamu tau, saya kadang merasakannya sulit..

dan untuk itu saja saya telah ganggu waktu tidurmu,

saat ini, ketika saya memejam mata,
sebuah adegan yang tergambar hanyalah

kita berbaring saling memunggungi..
kamu ke kanan dan saya ke kiri..

semoga besok pagi,
kita bangun,
temukan wajah masing-masing saling menghadap,
karena saya sudah akan rindu pandangi wajah kamu
waktu bangun nanti..

Posted by aletheia in 20:24:09 | Permalink | No Comments »

matahari matahari, tanpa tanda setrip

mataharinya ada dua,
aku berujar..

lalu mata terpejam
gelap, larut dalam lamunan..

kelopak mata terbuka,
gelap,
kehilangan matahariku lagi,
keduanya..

tunggu sampai besok pagi,
mereka datang lagi..

Posted by aletheia in 20:19:25 | Permalink | No Comments »

suatu sore kita jauh, tapi bersama…

Tadi sore saya nonton film kartun favorit saya, Inuyasha. Dia si siluman anjing yang jatuh cinta pada Kagome, perempuan reinkarnasi Kikiyo–cinta pertamanya. Sulitnya, Kagome berasal dari zaman yang berbeda, dimensi yang berbeda, bahkan dunia yang berbeda..

Di film ini, dikisahkan ada sebuah pohon suci yang hidup berabad-abad. Pohon yang berdiri kokoh di sana, walau zaman berganti abad. Di zaman Inuyasha, ia berdiri tegak di hutan dekat rumah dan kuil nenek Kaeide, tempat Inuyasha dan teman-temannya biasa berkumpul. Pada zaman Kagome, pohon itu berdiri masih sama kokoh, di depan kuil yang dijaga kakeknya Kagome–seorang pendeta kuil. Di sekitar pohon itu ada sebuah sumur kayu yang menjadi sebuah pintu waktu–hubungkan kedua masa tersebut.

Suatu hari, di episode yang saya tonton tadi sore (walaupun sudah diulang beberapa kali tayang di indosiar), ceritanya Kagome akhirnya kembali ke masanya, Tokyo abad 21… meninggalkan Inuyasha di zaman siluman dan pendekar berpakaian kimono masih saling bertarung dengan kekuatan aura.
Dia kembali di zamannya dengan hati penuh luka. Sebuah sore bersalju, berpayung dia berjalan mendekati pohon suci. Inuyasha di abad lampau, berdiri tepat di hadapannya, dengan dada tertusuk panah yang memasungnya ke batang pohon itu.

Kamu tau, entah apa karena efek sinematografi-animasi jepang yang kelewat bagus, nuansa warna yang romantis atau apa.. Saya bisa ikut dengar detak jantung Kagome waktu dengarkan lirih sura Inuyasha yang memanggilnya. Lalu mereka bercakap-cakap..

Lalu kamu tau, saya tiba-tiba teringat sebuah kalimat cantik yang pernah kamu berikan pada saya.. mungkin salah satu yang tercantik…

“………. Nanti kita cerita sama semua, suatu sore kita jauh, tapi bersama….”

Sore itu damai rasanya baca pesan singkat yang kamu kirimkan.. Most of the time till now, we’re apart dengan konsep ruang dan jarak.. tapi somehow, we work it out.. im glad we made it.

Dan saya bersyukur, saya rasa keadaan kita lebih baik daripada Kagome dan Inuyasha.. Mereka bahkan ga bisa ber sms ria..haha..

Kenapa ya? Pikiran saya bisa se absurd ini..
hehehe..
dan kamu pun keheranan dengan pesan terakhir yang saya kirimkan tadi..

Ngomong-ngomong, sayang..
Saya rindu baca tulisan kamu..

kemarin saya baca ym an kita yang jaman dulu sekali, awal2 juni kayaknya..
kamu bilang, belum ada perempuan yang buat kamu terdorong untuk menulis lagi… saat itu saya tdk yakin, apakah maksudnya, tdk ada perempuan yang berikan kamu semangat untuk menulis tentang apa pun, atau tdk ada perempuan yang menjadi sumber inspirasi untuk dijadikan tulisan…

apapun itu..
saya cuma ingin baca tulisan kamu lagi..

mon soleil… saya mau nyanyi lagu gulaku lagi.. hehehehe

15 september
suatu petang hingga malam

Posted by aletheia in 20:17:19 | Permalink | No Comments »

Tuesday, September 2, 2008

about loving you…

there’s something about this guy, that’s what i always thought long ago..

and after all of this between us, this morning im thinking, there’s actually something indeed..

there’s something about loving him..
it’s not like any other feels or kind of relationship i ever had before..

it’s not about doing something just for adrenaline..
it’s not one in order of my fight against papa, for doing something forbidden..

it’s not about adore only its beauty or charm, or great picture of a creature

it’s not about about admire only a great thoughts or loving the perfect idea or image of being

it’s also no more an extra effort of trying to be the perfect idea of me..

no more scares of being weak, of being unperfect, of being ordinary, or even being an imbicile..

for this guy, i wanna thank him, for being in love and loving an imbicile like me…

Posted by aletheia in 05:31:56 | Permalink | No Comments »

Setelah Lama Berselang…

Saya tahu kenapa saya gusar beberapa waktu ini. Saya berhenti menulis. Beberapa notepad berisi dua atau tiga baris tulisan bertebaran di ‘my documen’, teronggok tanpa sempat selesai. Begitu pun carik-carik kertas dan dalam buku saku baru yang dibuat dengan niat: agar tak ada lagi ide yang lepas hanya karena tak ada buku atau kertas untuk menulis.

Tapi tulisan kali ini pun saya tak yakin akan selesai untuk akhirnya lahir. Saya sampai mengira, kata-kata dan tanda baca marah besar pada saya. Entah, loncatan pikiran yang belakangan kian acak, dan fokus yang seringkali lari-lari dikejar sejenis rasa gusar, mungkin hanya sederetan alasan yang saya jadikan pembenaran.

Toh, sekarang saya pikir berhenti menulis itu sendiri ikut andil pada rasa gusar yang datang. Lingkaran  setan.

Saya lupa sudah berapa banyak cerita manis yang terlewat untuk tercatat. Tapi bukan berarti saya tak bisa kembali. Hanya mungkin, bukan hari ini. Karena hari ini punya ceritanya sendiri.

Pagi ini langit cerah, seperti isi pesan singkat saya pada dia. Tapi tidur tadi pagi sehabis saur hanya berisi keresahan. Rasa khas setiap kali saya harus bertemu orang baru. Tiap kali mau berangkat wawancara saya selalu tidur tidak nyenyak. Pernah sampai menyusun pertanyaan di dalam mimpi. Keresahan-keresahan yang sama seperti pagi di saat bangun untuk berangkat SPMB, EBTANAS, UAS.. atau entah apa lagi.

Jawabannya akhirnya saya temukan bertahun kemudian. Saya ketakutan. Saya ketakutan untuk tidak bisa memberikan yang terbaik. Entah pada siapa. Pada papa kah. Pada orang baru yang mungkin akan menjadi kolega atau teman atau bahkan sahabat kah. Pada diri sendiri–untuk kepuasan dan rasa damai yang selalu hadir setiap kali saya merasa membuat orang lain merasa lebih baik– kah. Entah pada siapa.

Mungkin saya hanya selalu ketakutan untuk berbuat kesalahan. Untuk selalu kurang baik. Untuk tidak cukup membuat papa mersaa bangga.  (Ha ha ha.. Lagi-lagi isu lama. Siapa pun yang membaca ini mungkin akan kebosanan.. seperti saya sendiri)  

Apa saya berlebihan. Iya, kadang saya berpikir terlalu jauh. Harapan dan ketakutan jadi satu paket yang dilempar  jauh ke depan seperti galah yang dilontarkan dalam permainan lempar galah. Bertahun saya hidup dengan pola yang dipakemkan seperti itu. Setiap caturwulan baru papa bertanya target saya untuk caturwulan berikutnya, lalu buat saya berjanji untuk memenuhinya..

Ah, saya jadi ingat tulisan di aletheia.. Tuan di seberang sana bilang, dulu dia pikir janji itu tidak manusiawi.. Yes indeed, honey…

                                                          ****

Tentang Harapan dan Merajuk

Belakangan didera hormon yang datang dengan laju tak menentu, saya keseringan merajuk. Saya sendiri sadar. Hanya tak tahu bagaimana cara mengendalikannya. Berharap dia tak terlalu terganggu. Berharap juga dia mungkin  tersadar, bahwa tak mudah bagi saya sanggup merajuk pada orang, dan dia lah yang saya jatuhi pilihan jadi tempat merajuk. Karena pada mama pun saya hanya bisa bermanja seadanya, tidak merajuk.

Saya pernah bilang pada dia–pertama kali dia tanyakan tentang harapan saya padanya–saya ingin dia ada, tidak ingin dia hilang, saya jawab dia dini hari itu.
Seiring waktu, seiring rasa sayang ini, saya pikir harapan itu pun berkembang, beranak cucu, menjadi remah-remah yang kadang tak masuk akal. Tapi dari harapan itu pula memang lahir kata bernama merajuk.

Suatu waktu, saya merajuk padanya karena saya dibuat percaya bahwa dia ingin kopi bikinan saya, tapi tak lama berselang dia beri tahu saya dia minum kopi bikinannya sendiri. (Itu yang waktu itu ada di dalam otak saya yang absurd ini.) Aneh memang. Dan dia–lebih aneh lagi–memahami hal itu. Apa dia tidak berpikir saya gila untuk perasaan yang rasa begitu nyata itu. haha.. saya rasa saya kadang memang harus menerima kalau disebut tak ubah dengan anak 5 tahun. Tidak bisa membedakan batas imajinasi, tidak bisa mengerti dengan baik konsep ruang, jarak..bahwa saya tak bisa berikan kopi itu padanya sore itu.

Tapi buat saya, kadang jarak itu menjadi imajiner, dan apa yang terasa itu menjadi nyata.

Saya hanya ingin tersenyum hingga mata tersipit, mengingat dia begitu baiknya, memahfumi kegilaan saya. I’m so lucky, aren’t i…?

Posted by aletheia in 04:53:05 | Permalink | No Comments »

Monday, July 28, 2008

Seminggu lagi ibu datang ke Jogja

Jogja panas sekali beberapa hari ini, nat. Bukan pilihan yang bagus buat berjalan kaki. Sudah dua hari saya pulang kursus naik angkutan, padahal jarak ke rumah tidak terlalu jauh dan banyak hal yang bisa dilihat sepanjang perjalanan. Tadi saya putuskan sebelum makan siang mau mampir sebentar ke warnet untuk mengirim beberapa paragraf buat kamu.

Saya tak ambil pusing apakah kamu merokok atau tidak. Tapi, saya bakal ambil pusing kalau merokok bikin kamu jadi sakit..hehe, apa ini adil? Kalau kamu suka, mengapa tidak? Saya suka gelisah kalau tidak ada rokok, mungkin kemarin kamu begitu juga. Menunggu kan seringkali memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang buat gelisah.

Barang yang kamu kirim belum sampai hingga tadi pagi. Apa kamu mencantumkan nomer telepon saya, sehingga kurirnya bisa tanya alamat? Hmmm..kalau tidak, semoga barangnya dikembalikan ke alamatmu. Sungguh, saya pun tak sabar menunggu kiriman itu. Saya cuma menggoda saja waktu bilang ‘jangan mengikatkan sesuatu pada barang’. Sebaiknya memang begitu, tapi ini kasus khusus. Semoga barang itu lekas jelas ada dimana.

Tadi saya jumatan di Kansas (Kantin Sastra UGM) bareng mas dede. Pesan dua gelas jus tomat lalu ngobrol ngalor-ngidul. Dia cerita tentang anak sahabatnya yang diramal sebagai reinkarnasi salah seorang pengelana tua dari Assyiria dan padatnya jadwal kuliah matrikulasi.

Mas Dede punya hubungan yang unik dengan sahabatnya. Mereka berasal dari Indramayu dan baru kenal ketika sama-sama kuliah di Fisip Unpad. Sahabatnya seorang yang religius. Seratus delapan puluh derajat dengan dia, tapi hubungan mereka baik-baik saja sampai sekarang. Bahkan sangat baik walau kerap beda pendapat kalau berdiskusi.

Kami lalu cari tempat yang enak buat rebahan. Saya ingat FISIPOL punya plasa yang nyaman. Pohon-pohon besar berdaun lebat. Burung-burung bernyanyi di dahannya. Saya rebahan di atas kursi panjang dari semen yang dicat hitam. Menutup mata barang 10 menit.

Oia, saya sempat buka e-mail dari komputer yang disediakan dekat plasa. Ada sekitar 10 unit komputer yang ditaruh dalam kotak kayu dan bisa dipakai hingga sore oleh mahasiswa yang tidak punya laptop. Ah, saya iri…

Humaniora UGM masuk peringkat 46 dunia. Taraf mereka internasional, dan terakreditasi U – sistem akreditasi baru pakai huruf U buat Unggul, tingkatnya di atas A. Itu kenapa tadi saya sms sedang berkeliling di UGM mencari jurusan yang cocok buat studi Magister..hehe. Mungkin mau ambil sejarah atau filsafat.

Seminggu lagi ibu datang ke Jogja, saya tak sabar menceritakan kamu pada dia..

Jogja, 18 Juli 2008

Posted by aletheia in 05:56:34 | Permalink | No Comments »